Minggu, 01 Juli 2012

Sebuah Makna Shalat

Katakan olehmu: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam “ (Q.S. 6 : 162)

“ Pembatasan antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” (H.R. Muslim).

Al-Qur'an mengembalikan kesadaran manusia bahwa alam adalah kalam ilahi dan pelengkap ayat-ayat suci tertulis yang diwahyukan dalam bahasa IBADAH SHALAT

Katakan olehmu: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam “ (Q.S. 6 : 162)

“ Pembatasan antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” (H.R. Muslim).

Al-Qur'an mengembalikan kesadaran manusia bahwa alam adalah kalam ilahi dan pelengkap ayat-ayat suci tertulis yang diwahyukan dalam bahasa Arab. Kesadaran ini diperkuat dengan tata cara shalat yang secara naluri mengembalikan manusia pada keadaan primordialnya, dengan menjadikan seluruh alam sebagai tempat ibadah. Pada permulaan shalat, seorang muslim berdiri tegak lurus, sebagai manusia primordial : “ia menjadi imam bagi dirinya sendiri menghadap Tuhan tanpa perantara”.

Ruku adalah posisi kedua dalam shalat dan sekaligus merupakan simbol keberadaan manusia di alam semesta dan terapit oleh langit dan bumi walaupun bersifat dinamis. Langit dan bumi yang menutupi ruang lingkup manusia tetap dilandasi oleh ketertiban dan keselarasan (tanasub) yang lebih dari sekadar hasil perwujudan nyata kekuasaan Yang Esa, serta menunjukkan pola dasar yang selaras dan seimbang. Keabadian pola dasar posisi ruku di dalam shalat itu juga mencerminkan keberadaan universal yang lebih tinggi daripada segala kemungkinan yang bisa terjadi dalam alam ilahi.

Sujud, yakni posisi ketiga dalam shalat ketika dahi orang yang mengerjakan shalat menyentuh bumi dalam kepatuhan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dengan demikian juga mensucikan bumi dan mengembalikan bumi itu ke kesucian yang murni sebagaimana bumi semula pada permulaan penciptaannya. Bersujud menyentuh bumi ini, diantara berbagai fungsinya, adalah untuk mengembalikan manusia dan alam ke kesucian primordial (al-fitrah), saat Yang Maha Esa menghadirkan diriNya secara langsung ke dalam hati manusia dan mengumandangkan sebuah simfoni abadi dalam keselarasan yang ada pada alam yang suci.

Dengan mewahyukan kewajiban shalat setiap hari kepada utusannya, Tuhan menjadikan alam tidak hanya sebagai tempat, sebagaimana arti sebenarnya bagi manusia primordial tanpa adanya bahaya kemusyrikan, melainkan juga mengijinkan penyucian bumi itu sendiri melalui sujud sang manusia sempurna.

Dengan menyentuhkan dahinya ke tanah Rasulullah Saw memberi makna khusus bagi lantai rumahnya, menjadikannya sebagai masjid pertama (Masjid Nabawi di Madinah). Masjid menjadi penting bukan sekadar karena menjadi tempat berdoa orang-orang yang beriman. Tetapi masjid juga merupakan lantai tempat mereka menundukkan diri. Dengan melakukan shalat didalam sebuah masjid, seorang muslim berarti kembali ke pusat alam, bukan secara eksternal melainkan melalui hubungan batin yang menghubungkan masjid dengan prinsip-prinsip dan irama-irama alam.

Dengan kedudukan masjid sebagai perluasan alam primordial, sesungguhnya Islam menekankan alam primordial manusia itu sendiri. Alam primordial ini berusaha ditegaskan dan dibangkitkan kembali untuk menyadarkan manusia dari keterlenaan, membangkitkan kesadaran dalam dirinya akan realitas Yang Maha Esa atau yang Maha Mutlak. Sebuah kesadaran yang sesungguhnya merupakan substansi dari manusia primordial dan sebab terbentuknya eksistensi manusia (raison d'etre).

Seorang muslim menyatukan ruang masjidnya ke ruang sakral alam primordial yang luas dan teramat luas, ketingkat alam suci yang mampu menahan gencarnya serangan-serangan manusia yang anti tradisional, yakni manusia yang memberontak kepada Sang Pencipta dan memainkan peran ketuhanannya di muka bumi tanpa menundukkan dirinya kepada kehendak Sang Pencipta (manusia promothean).

Nabi Muhammad Saw pertama kali menunaikan ibadah shalat didepan singgasana Tuhan (Al-Arsy) sebelum beliau mengerjakan shalat di atas tanah (farsy), dan dengan penyucian kembali farsy sebagai refleksi arsy yang mengembalikan bumi ke kondisi primordialnya sebagai cermin dan pantulan surga. Terlebih lagi Rasulullah Saw menegaskan bahwa farsy itu tak ubahnya merupakan pencerminan arsy.

Beliau melakukan shalat di gurun pasir dan pegunungan, di alam yang tetap suci dan bersih. Beliau jugalah yang mensucikan bumi dengan sesuatu yang dibawa dari arsy ke tanah atau ke farsy tempat tinggal manusia, suatu penyucian bumi secara esoteris dan tidak kasat mata, namun sangat menentukan asal mula lahirnya kesucian dalam arsitektur Islam. Dengan kata lain, jiwa Nabi Muhammad Saw, adalah sebuah sumber gaib bagi seluruh spiritualitas Islam, dari dalam jiwanya juga dapat ditemukan ketenangan hati, sifat pemaaf, kerukunan, tindakan yang cermat, kekayaan batin, dan kedermawanan yang mewarnai suasana pemukiman Islam tradisional.

Shalat dan ibadah-ibadah lainnya dalam Islam dilakukan oleh manusia ,bukanlah sebagai makhluk yang kalah melainkan sebagai wakil Tuhan (khalifatullah) di muka bumi. Sebuah kesadaran sebuah substansi teomorfis dan berdiri pada poros vertikal eksistensi alam semesta dan dapat berdoa dan berseru kepada Tuhan secara langsung. Membuat pemikiran Islami tentang ibadah tidak dapat dicapai tanpa mencurahkan sepenuhnya kepada Nabi serta ibadah-ibadah yang dibawanya ke dunia ini sebagai perintah Tuhan. Juga memperhatikan bumi dan alam sebagai kesatuan yang merefleksikan surga dan mengembalikan karakter primordial mereka yang asli sebagai karya yang diciptakan untuk beribadah kepada Yang Maha Esa tanpa pengecualian dimanapun seseorang bertempat tinggal diantara roda eksistensi bumi.

Begitu pula apabila tangan dan wajah seseorang menyentuh tanah dalam shalatnya, hal itu menyadarkannya tentang penyucian bumi makhluk paling sempurna. Dengan sujud dan kepasrahan total kepada Tuhan, itu berarti menyucikannya bagi generasi muslim.

Maksud dan tujuan shalat adalah mengakui kesucian, keEsaan dan kebesaran serta ketinggian Allah Swt dengan mentaati ajaran dan didikan Nabi, dengan jalan memakai hati lidah dan laku perbuatan anggota tubuh sekaligus. Yang hakikatnya tidak lain adalah semata-mata mentaati perintah Allah Ta'ala.

Shalat, mempunyai pengaruh kimiawi pada jiwa pelakunya (yang melakukannya) memancarkan suatu keindahan yang meluluhkan dan mengoyak-ngoyak hingga remuk redam sekalipun hanya untuk sesaat, karena keterbatasan akan eksistensi kehidupan. Namun keadaan seperti itu tidak dapat dicapai kecuali manusia merasakan leburnya diri melalui realisasi dirinya.

Pengertian shalat dalam pengertian sehari-hari adalah sembahyang, sedangkan sembahyang didalam pengertian Islam : bukan berarti menyembah sesuatu diluar Allah, tetapi adalah shalat = shalat. Shalat didalam pengertian bahasa Arab kuno sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw berarti puji-pujian kepada Nabi atau berarti doa.

Shalat didalam pengertian istilah yang baik lagi benar yaitu : “satu bentuk upacara yang rukun-rukunnya dan adab-adabnya serta ucapan-ucapan doa didalam shalat itu, bukan dibuat atau dikarang oleh manusia untuk Tuhan, melainkan Malaikat Jibril atas perintah Allah yang mengajarkan semua itu kepada Nabi Muhammad Saw”. Kemudian Rasulullah Saw, mengajarkannya lagi kepada sahabat dan pengikutnya. Jadi semuanya itu diterima oleh Nabi Saw secara wahyu, bukan karena hawa nafsunya.

Sedangkan shalat yang dikehendaki oleh syara ialah beberapa ucapan dan laku perbuatan menurut syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Allah, dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam sebagai tanda bukti pengakuan bahwa diri kita adalah insan hamba Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mengerjakan shalat berarti telah melakukan ibadah yang paling baik kepada Allah Swt.

“Hai orang-orang yang beriman rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Q.S. 22 :77).

Arab. Kesadaran ini diperkuat dengan tata cara shalat yang secara naluri mengembalikan manusia pada keadaan primordialnya, dengan menjadikan seluruh alam sebagai tempat ibadah. Pada permulaan shalat, seorang muslim berdiri tegak lurus, sebagai manusia primordial : “ia menjadi imam bagi dirinya sendiri menghadap Tuhan tanpa perantara”.

Ruku adalah posisi kedua dalam shalat dan sekaligus merupakan simbol keberadaan manusia di alam semesta dan terapit oleh langit dan bumi walaupun bersifat dinamis. Langit dan bumi yang menutupi ruang lingkup manusia tetap dilandasi oleh ketertiban dan keselarasan (tanasub) yang lebih dari sekadar hasil perwujudan nyata kekuasaan Yang Esa, serta menunjukkan pola dasar yang selaras dan seimbang. Keabadian pola dasar posisi ruku di dalam shalat itu juga mencerminkan keberadaan universal yang lebih tinggi daripada segala kemungkinan yang bisa terjadi dalam alam ilahi.

Sujud, yakni posisi ketiga dalam shalat ketika dahi orang yang mengerjakan shalat menyentuh bumi dalam kepatuhan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dengan demikian juga mensucikan bumi dan mengembalikan bumi itu ke kesucian yang murni sebagaimana bumi semula pada permulaan penciptaannya. Bersujud menyentuh bumi ini, diantara berbagai fungsinya, adalah untuk mengembalikan manusia dan alam ke kesucian primordial (al-fitrah), saat Yang Maha Esa menghadirkan diriNya secara langsung ke dalam hati manusia dan mengumandangkan sebuah simfoni abadi dalam keselarasan yang ada pada alam yang suci.

Dengan mewahyukan kewajiban shalat setiap hari kepada utusannya, Tuhan menjadikan alam tidak hanya sebagai tempat, sebagaimana arti sebenarnya bagi manusia primordial tanpa adanya bahaya kemusyrikan, melainkan juga mengijinkan penyucian bumi itu sendiri melalui sujud sang manusia sempurna.

Dengan menyentuhkan dahinya ke tanah Rasulullah Saw memberi makna khusus bagi lantai rumahnya, menjadikannya sebagai masjid pertama (Masjid Nabawi di Madinah). Masjid menjadi penting bukan sekadar karena menjadi tempat berdoa orang-orang yang beriman. Tetapi masjid juga merupakan lantai tempat mereka menundukkan diri. Dengan melakukan shalat didalam sebuah masjid, seorang muslim berarti kembali ke pusat alam, bukan secara eksternal melainkan melalui hubungan batin yang menghubungkan masjid dengan prinsip-prinsip dan irama-irama alam.

Dengan kedudukan masjid sebagai perluasan alam primordial, sesungguhnya Islam menekankan alam primordial manusia itu sendiri. Alam primordial ini berusaha ditegaskan dan dibangkitkan kembali untuk menyadarkan manusia dari keterlenaan, membangkitkan kesadaran dalam dirinya akan realitas Yang Maha Esa atau yang Maha Mutlak. Sebuah kesadaran yang sesungguhnya merupakan substansi dari manusia primordial dan sebab terbentuknya eksistensi manusia (raison d'etre).

Seorang muslim menyatukan ruang masjidnya ke ruang sakral alam primordial yang luas dan teramat luas, ketingkat alam suci yang mampu menahan gencarnya serangan-serangan manusia yang anti tradisional, yakni manusia yang memberontak kepada Sang Pencipta dan memainkan peran ketuhanannya di muka bumi tanpa menundukkan dirinya kepada kehendak Sang Pencipta (manusia promothean).

Nabi Muhammad Saw pertama kali menunaikan ibadah shalat didepan singgasana Tuhan (Al-Arsy) sebelum beliau mengerjakan shalat di atas tanah (farsy), dan dengan penyucian kembali farsy sebagai refleksi arsy yang mengembalikan bumi ke kondisi primordialnya sebagai cermin dan pantulan surga. Terlebih lagi Rasulullah Saw menegaskan bahwa farsy itu tak ubahnya merupakan pencerminan arsy.

Beliau melakukan shalat di gurun pasir dan pegunungan, di alam yang tetap suci dan bersih. Beliau jugalah yang mensucikan bumi dengan sesuatu yang dibawa dari arsy ke tanah atau ke farsy tempat tinggal manusia, suatu penyucian bumi secara esoteris dan tidak kasat mata, namun sangat menentukan asal mula lahirnya kesucian dalam arsitektur Islam. Dengan kata lain, jiwa Nabi Muhammad Saw, adalah sebuah sumber gaib bagi seluruh spiritualitas Islam, dari dalam jiwanya juga dapat ditemukan ketenangan hati, sifat pemaaf, kerukunan, tindakan yang cermat, kekayaan batin, dan kedermawanan yang mewarnai suasana pemukiman Islam tradisional.

Shalat dan ibadah-ibadah lainnya dalam Islam dilakukan oleh manusia ,bukanlah sebagai makhluk yang kalah melainkan sebagai wakil Tuhan (khalifatullah) di muka bumi. Sebuah kesadaran sebuah substansi teomorfis dan berdiri pada poros vertikal eksistensi alam semesta dan dapat berdoa dan berseru kepada Tuhan secara langsung. Membuat pemikiran Islami tentang ibadah tidak dapat dicapai tanpa mencurahkan sepenuhnya kepada Nabi serta ibadah-ibadah yang dibawanya ke dunia ini sebagai perintah Tuhan. Juga memperhatikan bumi dan alam sebagai kesatuan yang merefleksikan surga dan mengembalikan karakter primordial mereka yang asli sebagai karya yang diciptakan untuk beribadah kepada Yang Maha Esa tanpa pengecualian dimanapun seseorang bertempat tinggal diantara roda eksistensi bumi.

Begitu pula apabila tangan dan wajah seseorang menyentuh tanah dalam shalatnya, hal itu menyadarkannya tentang penyucian bumi makhluk paling sempurna. Dengan sujud dan kepasrahan total kepada Tuhan, itu berarti menyucikannya bagi generasi muslim.

Maksud dan tujuan shalat adalah mengakui kesucian, keEsaan dan kebesaran serta ketinggian Allah Swt dengan mentaati ajaran dan didikan Nabi, dengan jalan memakai hati lidah dan laku perbuatan anggota tubuh sekaligus. Yang hakikatnya tidak lain adalah semata-mata mentaati perintah Allah Ta'ala.

Shalat, mempunyai pengaruh kimiawi pada jiwa pelakunya (yang melakukannya) memancarkan suatu keindahan yang meluluhkan dan mengoyak-ngoyak hingga remuk redam sekalipun hanya untuk sesaat, karena keterbatasan akan eksistensi kehidupan. Namun keadaan seperti itu tidak dapat dicapai kecuali manusia merasakan leburnya diri melalui realisasi dirinya.

Pengertian shalat dalam pengertian sehari-hari adalah sembahyang, sedangkan sembahyang didalam pengertian Islam : bukan berarti menyembah sesuatu diluar Allah, tetapi adalah shalat = shalat. Shalat didalam pengertian bahasa Arab kuno sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw berarti puji-pujian kepada Nabi atau berarti doa.

Shalat didalam pengertian istilah yang baik lagi benar yaitu : “satu bentuk upacara yang rukun-rukunnya dan adab-adabnya serta ucapan-ucapan doa didalam shalat itu, bukan dibuat atau dikarang oleh manusia untuk Tuhan, melainkan Malaikat Jibril atas perintah Allah yang mengajarkan semua itu kepada Nabi Muhammad Saw”. Kemudian Rasulullah Saw, mengajarkannya lagi kepada sahabat dan pengikutnya. Jadi semuanya itu diterima oleh Nabi Saw secara wahyu, bukan karena hawa nafsunya.

Sedangkan shalat yang dikehendaki oleh syara ialah beberapa ucapan dan laku perbuatan menurut syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Allah, dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam sebagai tanda bukti pengakuan bahwa diri kita adalah insan hamba Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mengerjakan shalat berarti telah melakukan ibadah yang paling baik kepada Allah Swt.

“Hai orang-orang yang beriman rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Q.S. 22 :77).***


Referensi :
MK Al Mukarramah oleh Faridhal Attros Al Khindy Asy'ari

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

WARNING !
Komentar anda tidak boleh mengandung unsur:
1.Penghinaan, Rasis dan Pelecehan
2.Spamming (Spam Comments)
3.Link Iklan, ads etc
Terima Kasih.


Jika ada request ato laporan tentang :
1.Request Software atau Tutorial
2.Bad Link & Re-active link (akibat broken link)
Silakan comment di bawah atau kirim pesan ke saya via facebook >> Akunku : Adhieresthenes Hier Banu Arfakhshad